Shining Love in You (Begin)
Author : Fitria (Tria DeAngelo)
Main Cast : Choi Minho, Lee Shin Ja a.k.a Shia, Lee Jinki (Onew), Lee Taemin, Kim Jonghyun, Kim Kibum
Support Cast : Super Junior, U Kiss
Length : Sequel
Genre : Friendship, Live, Romance
Shia POV
Aku berlari secepat mungkin, tidak mempedulikan tatanan rambutku yang berantakan, keringat yang mulai bercucuran, bedak luntur juga cacian orang karena aku berlari menyeberang jalan tanpa tengok kanan kiri, salah memang tapi ini bukanlah urusan hidup dan mati melainkan terlambat dan tidak terlambat. Samar-samar tampak olehku pintu gerbang Anyang Art High School, kupercepat laju lariku 20 meter, 10 meter dan yes aku berhasil melewati gerbang sekolah bersamaan dengan bunyi bel masuk. Huft, hampir saja terlambat.
Aku berjalan melewati koridor yang mulai sepi, semua murid bergegas menuju kelasnya masing-masing sedangkan aku sendiri masih ngos-ngosan sehabis lari pagi. Langkahku terhenti di depan kelas X A, suara gaduh terdengar jelas dari depan kelas dan dapat dipastikan Mr. Jang Hyun Woon belum memasuki kelas ini. Baguslah, setidaknya aku bisa melemaskan otot-otot dan persendianku.
”Hei, kau habis maraton?”, tanya Jessica kaget melihat penampilanku.
Aku menggeleng pelan lantasduduk di sampingnya.
”Oh No,.rapikan dulu penampilanmu Shia kau bisa membuat imejku turun,” Jessica mengomel. ”Fine,.akan kurapikan, Oke? Dengan satu syarat kamu berhenti mengoceh,” aku mulai melap leher dan wajahku dari keringat, cuek dengan tatapan melotot Jessica.
Tidak lama kemudian Mr. Jang Hyun Woon memasuki kelas, oh ya sistem sekolah kami memang sedikit berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Di sini tiap guru dipanggil dengan Mr, Ms, Madam dan Professor tergantung gelar mereka masing-masing, selain itu sekolah mengadakan hari bahasa, misal dari hari Senin hingga Sabtu murid-murid diwajibkan berkomunikasi di sekolah menggunakan bahasa Korea dan Inggris selang-seling selain itu tiap akhir bulan diharuskan menggunakan bahasa asing yang telah diajarkan seperti Bahasa Jerman dan Prancis sesuai dengan kebijakan sekolah. Hal ini dilakukan agar para siswa memiliki kemampuan berkomunikasi secara global dengan menguasai berbagai macam bahasa. Meskipun sistem sekolah kami sangat ketat dengan banyak peraturan, aku sangat bersyukur dapat diterima di sini selain sekolah memiliki fasilitas yang lengkap, GOR, laboratorium fisika, kimia, bahasa, geologi, TIK, perpustakaan dan lapangan yang luas serta lingkungan yang asri memiliki daya tarik tersendiri untuk memancing calon peserta didik di tiap tahunnya.
”Baiklah anak-anak coba cari sinus, kosinus dan tangen sudut α pada ΔACG pada diagonal AC!” perintah Mr. Hyun Woon.
Jujur saja aku mengaku tidak begitu ahli dalam Matematika, buktinya sedari tadi aku mencoba menghitung ujung-ujungnya buntu di tengah jalan. Aku menoleh ke arah Jessica, egh yang sedang ditoleh malah sedang asik ber-handphone ria.
”Ehem,..”godaku.
Jessica memasang mimik tidak ingin diganggu, aku mencoba mengintip kegiatannyatapi dengan cekatan ia mencubit lengan kiriku.
”Awwww,..!” aku berteriak, refleks.
Seluruh pasang mata mengarah padaku. Sial!
”Sepertinya, teman kalian sudah menemukan jawabannya,” Mr Hyun Woon berjalan ke arahku.
Aku panik, sementara Jessica memasang muka polos yang asli membuatku dongkol setengah mati. Otomatis jawabanku salah dan Mr. Hyun Woon memberiku PR tambahan disertai alasan bahwa aku tidak memperhatikan pelajarannya dengan baik. Parahnya, PR tambahan yang diberikan ada 50 soal, bayangkan 50 soal dan harus dikerjakan beserta caranya. Membuat kepalaku pening. Aku memilih pasif pada pelajaran-pelajaran selanjutnya. Teet! Bel istirahat berbunyi.
”Shia,..mian,” Jessica memandangku, tatapannya menyiratkan rasa takut.
”Wait,.jangan berpikir jika aku marah padamu,” aku tersenyum, ”Memangnya siapa sih namja beruntung yang mendapat perhatianmu itu?”
Jessica tidak menjawab,”Kajja,..I’m hungry”.
Seperti biasa, kantin tidak pernah sepi. Jessica melongok kesana-kemari mencari bangku kosong (bukan judul film horor loh?), pandangannya terhenti di salah satu titik.
”Egh,.disana kosong tu,” Jessica nyelonong di depanku sembari membawa nampan berisi lunch miliknya.
Ketika tengah asik makan, kami dikagetkan dengan kedatangan lima namja yang sudah tidak asing lagi di sekolah ini, merekalah pahlawan-pahlawan yang berkali-kali mengharumkan nama sekolah. ”Kami mau makan, kalian berdua bisa pindah ke seberang sana,” Jonghyun mengarahkan pandangannya ke arah, What? Bangku pojok dekat tempat sampah? Sangat tidak sopan.
Jonghyun POV
”Hyung bangun, mau makan tidak?” Taemin menggerak-gerakkan badanku yang masih tidur dengan gaya mengukur meja (salah satu tangan menghadap vertikal searah meja) Aku membuka mata, sinar matahari menembus jendela kelas membuatku silau.
”Hyung baik-baik saja? Ini berapa?” Taemin menggerakkan tangannya di depan wajahku.
”Baby Taem, kau ini apa-apaan? Membuat fell-ku jelek saja,” dasar anak aneh.
”Ah,.Hyung aku hanya khawatir saja,” Taemin berjalan di sampingku.
Di depan kelas ada Key dan Onew yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
”Wah,.hp-nya bagus touch screen lagi,” ucap Taemin takjub, seperti anak TK baru liat burung Kakaktua bicara.
‘’Ini I-Phone,” ujar Key dan Onew bersamaan.
Taemin hanya ber-O tak mengerti, sepanjang jalan menuju kantin ia memberondong Onew dan Key dengan pertanyaan tak bermutunya itu.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang,”Minho, kau seharusnya makan siang bersama gadis-gadis pemandu sorak.” Minho baru saja terpilih sebagai kapten tim voli untuk mengikuti kejuaraan voli SMA Nasional di Seoul, tampang keren dan tumbuh tinggi menjulang, siapa sih yeoja yang tidak kepincut?
Minho menatapku heran, ”Hmm, aku memutuskan untuk menghabiskan waktuku bersama sahabat-sahabatku daripada harus dikelilingi orang-orang yang tak kukenali.”
”Aku salut padamu Brother,” ucapku. Kadangkala Minho tidak menyadari betapa istimewanya dia, sehingga mampu membuat para yeoja bertekuk lutut di hadapannya.
Kantin penuh, Minho mencari tempat yang kosong (dia kan paling tinggi tanpa harus jinjit pun sudah kelihatan T.T)
”Guys, sebenarnya di sana ada tempat, cuman sudah ada yang pakai,” Minho menunjuk pada dua yeoja yang tengah makan siang.
”Tenang saja, aku akan membereskannya.”
”Kami mau makan, kalian berdua bisa pindah ke seberang sana,” ucapku pada mereka
”Apa? Kenapa tidak kalian saja yang makan di sana?” ujar si yeoja berambut hitam.
”Nona, kami tidak mau makan di sana. Jadi sebaikna kau dan temanmu ini pindah ke sana,” aku mencoba menahan emosiku.
”Egh,.Tuan tak punya sopan-santun, kau tidak lihat kalau bangku di sana dekat tempat sampah. Kami tidak akan pindah.”
”Kau ini...”
”Sudah,.sudah kami akan pindah kok,” kata yeoja berambut pirang di sebelahnya.
”Apa? Aku tidak mau pindah. Jessica kita ada di sini lebih dulu.”
”Aku tahu Shia, tapi daripada ribut-ribut begini lebih baik kita mencari tempat lain,” ajak Jessica pada Shia.
Shia tetap bersikukuh pada pendiriannya, yeoja menyebalkan.
”Alright, tidak ada yang pindah kia semua makan di sini lagipula tempatnya muat untuk bertujuh,” Key mengambil inisiatif.
Key POV
Perutku lapar, semakin melilit ketika harus mendengar perdebatan antara Jonghyun dengan yeoja bernama Shia itu, Jonghyun yang ambisius dan Shia yang terlihat berpendirian tetap (itu menurutku) terus saja berkilah. Habislah kesabaranku....,
”Alright, tidak ada yang pindah kia semua makan di sini lagipula tempatnya muat untuk bertujuh,” aku berinisiatif agar semuanya makan di sini, memalukan juga dilihat banyak orang hanya gara-gara masalah sepele. Berebut meja kantin, oh tidak semoga ini tidak masuk majalah sekolah (bukannya terlalu percaya diri tapi melihat popularitas kami sebagai bintang sekolah, hal seremeh apapun bisa dipublikasikan)
Aku duduk di samping Shia, kulirik menu makanannya dan aku terbelalak kaget, ternyata makannya banyak juga (notabene yeoja gitu loh). Aku beralih ke makananku, berusaha terlihat normal. Dilihat sekilas penampilannya biasa saja, rambutnya hitam sebahu sedikit bergelombang di bagian bawah, tingginya kutaksir sekitar 168 cm (standar lah), sepertinya ia ada darah bule, terlihat dari matanya yang biru dan wajahnya yang tidak original Korea. ” Kamshahamnida.,” ucapku mencoba mencairkan suasana.
”Ne,.” Shia membungkukkan badannya, wah santun pada para sunbae rupanya.
Terdengar bel masuk berbunyi, mereka berlalu. Aku kembali merapikan pakaianku (padahal menurutku juga masih rapi T_T)
Author POV
Selama sisa pelajaran hari ini Jessica tak ada hentinya mengoceh, tentu saja jika bukan karena insiden makan siang tadi. Shia jadi tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan guru.
”Jes,.please silent atau aku akan menyumpal mulutmu dengan ini,” ancamnya dengan gumpalan kertas yang sudah ia remas.
”Ogh,..peace..oke, aku diam,” Jessica menggerakkan tangan di sekitar bibir.

















