Tittle: Our Love Story
Author: Tria De Angelo
Main Cast: Sazou Girlz and handsome boys (aktor cwo-x banyak, author males nulisnya)
Genre: Romantic, friendship
Rating: PG+13
Length: ficklet n oneshoot gak jadi, jadinya short story hahaha
Disclaimer: cerita ini keluar dari otak erorku, yang ngetik aku, jadi semuanya punyaku kecuali handsome boys and Sazou Girlz
Sebelumnya maaf, beribu-ribu maaf. Ini cuman ff (fan fiction) cerita seru-seruan tanpa bermaksud menyinggung perasaan. Selain itu ini juga u/kenang-kenangan iya klo sekelas klo ga? Hihi....Just making joke, OK? Dan yang buat member Sazou Girlz yang belum keluar, hadeuh sabar yaw? Binun klo kebanyakan pemain. Oh ya aku bakalan sering pake istilah ini, author : penulis, readers: pembaca. Enjoy the story, mau ng-like, coment, kritik silakan, saiiia dengar dengan sepenuh hati.
Hari yang cerah, Sazou Girlz sedang asik ngobrol tanpa gangguan suatu apapun. Maklum, barusan tes semesteran and sudah selesai remidial. Daripada jdag-jdug-jder jantungan mikirin nilai yang mungkin kalang-kabut gak karuan hilirnya, mending ber-haha-hihi ria. Beberapa hari sebelumnya, mereka (baca: Sazou Girlz buat planning multiple date alias dating bareng-bareng ma pasangan masing-masing) Ayo, dengerin obrolan mereka...,
”Jangan lupa ma agenda besok lusa loh..,” celetuk Tria ditengah-tengah lagi seru-seruan gosipin Justin bawa SelGom ke Indonesia.
”Iya Nyonya Kevin, lagian antusias banget sih,” balas Dheny sambil benerin kerudungnya.
”Aduh Dheny, itu kan multiple date kita, ng-date terheboh and ter-rame deh,” timpal Midha berbunga-bunga.
”Gi pula kan kia juga dah punya pasangan masing-masing,” tambah NurAz gak kalah berflower-flower.
Oyil ndiri yang namanya hampir mirip bunga pun cuman bisa angguk-angguk saking senengnya bayangin dia bakal gandengan sama KiSeob.
”Tu kan Dhen, pada se-pitu dengan saiiia,” ucap Tria bangga.
”Hmm terserah deh,” Dheny nyerah, emang susah klo debat ma cecunguk yang satu ini.
”Lah, tak usah sedih Dhen, Jonghyun setia menemani ogg,” ucap Prames yang sontak bikin muka Dheni merah, konsentrasi benerin kerudung jadi hilang, alhasil bagian kanan dan kiri tidak simetris.
”Praammmmm.....!!!!!” teriak Dheny. Prames langsung sembunyi dibalik bahu Oyil dan Astrie, lumayan nak karate bisa buat tameng. (tameng gundulmu Pram)
”Dah Dhen, malu-malu bebek berbaris. Aku sama Taemin ja go public tuh,” hibur NuRil girang. Sejak resmi pacaran dua bulan lalu pasangan Nu-Taem (NuRil Taemin) paling hobi namanya jalan-jalan. Tempat mana aja dijelajahin deh, museum, candi, kebun binatang sampe pasar tradisional. Setelah itu nge-tweet dan posting video or photo overload ke twitter, bikin account member Sazou Girlz lainnya penuh tweet dari Nuril. Prames sempet ngomel-ngomel coz dia jadi susah nyari postingan-nya Alexander. Tingkah NuRil ini 12-13 dengan tingkah Rodhy, bedanya jika NuRil pake twitter, Rodhy ngumbar date-nya bareng SooHyun lewat fb. Jadi tiap buka fb, ada aja status Rodhy, mending klo cuman satu ato dua tapi seringnya lebih dari lima. Alamak....,ampun deh (geleng-geleng kepala)
”Terus kapan nih mau flirting baju, aku mau ngasih tau Akang Ki Seob,” tanya Oyil.
Tria mengerutkan dahi, “Flirting tu tindik Oyil...”
”Bukan itu kan yang buat olahraga tha..,” tambah Astrie.
”Yeee,..tu sih fitness,” balas Tria.
Oyil bengong, gak mudeng. Dia sempet mikir ngapain sampe tindik dan olahraga segala.
”Itu namanya fitting baju, kita nyari baju yang pas untuk dibawa ke acara yang sudah direncanakan” jelas NurAz. T.O.A (Tria Oyil Astrie) langsung koor O bersama.
Keesokan harinya, seperti rencana mau fitting baju bersama pasangan masing-masing. Mau tahu cerita seru mereka? Come on, kita follow mereka...(readers : kita?, loe aja kali Fit)
1st Couple : DJ (Dheny-Jonghyun)
Dheny melihat pantulan dirinya di depan cermin, memang sudah 4 bulan ia dan Jonghyun jadian. Berada dalam ekstrakulikuler yang sama dan menjadi pasukan tonti membuatnya selalu bisa melihat Jonghyun setiap hari, masalahnya adalah ketika latihan mereka berdua seperti orang asing. Jonghyun nyaris tidak pernah mengajaknya bicara, hanya menyatakan perintah, haluan, balik, hadap, hormat dan istirahat. Mereka juga tidak banyak memiliki waktu bersama, Jonghyun selalu memiliki jadwal yang padat. Dheny kadang merasa iri melihat pasangan NuRil-Taem maupun Rodhy-SooHyun, Taemin dan SooHyun selalu punya waktu untuk kekasih mereka. Dheny melirik jam dinding kamarnya. Sebentar lagi Jonghyun datang, ia dapat merasakan tangannya yang berkeringat. Yah, meskipun ia dan Jonghyun sudah berpacaran selama 4 bulan, tapi ini adalah kencan pertama mereka. (Whattt!!!)
Brrmmm...,Tinnn!
”Jonghyun!” pekik Dheny. Ia langsung menyambar tas dan segera keluar rumah.
Hari itu Jonghyun memakai printed t-shirt dibalut dengan jaket, celana denim ¾ dan loafers, rambutnya dibiarkan berantakan dengan sentuhan gell di bagian depan. (Lihat video Ring Ding Dong-nya SHINee) Tatapan mata Jonghyun menelusuri Dheny from head to toe, membuat Dheny berkeringat dingin.
”Kerudungmu miring tu,” ucap Jonghyun menunjuk ke kerudung kekasihnya itu.
Dheny panik langsung bercermin di kaca spion motor Jonghyun. Saat melihat bayangan wajahnya di cermin, ia menyadari bahwa Jonghyun hanya mengerjainya. Refleks Dheny mencubit pergelangan tangan Jonghyun.
”Auchh,..sakit,” Jonghyun mengelus pergelangan tangannya yang memerah.
”Salah sendiri mengerjaiku,” kata Dheny.
”Sorry,” ujar Jonghyun sembari tersenyum membuat Dheny langsung lemas. Senyuman itulah yang membuatnya langsung jatuh hati pada laki-laki ini. Senyuman yang hangat dan menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya. (author : readers klepek-klepek kaya’ ikan kakap kekurangan air, hihihi)
”Ayo pergi,” Jonghyun mengintruksi Dheny untuk segera naik ke motornya. Sekali melihat ia dapat mengidentifikasi ini adalah Yamaha YZF R1 Titisan MotoGP. Ia sempat membaca majalah Tria beberapa hari yang lalu di artikel tentang perburuan motor sport canggih. Body motor yang besar dengan warna biru metalik ditambah jok yang empuk plus Jonghyun yang ganteng faedah double bagi Dheny.
Setelah belanja baju untuk multiple date, Jonghyun mengajak Dheny ke apartement-nya. Dheny hampir kena serangan jantung (lebay lu Fit) melihat keadaan apartement Jonghyun yang tidak hanya mirip kapar pecah tapi lebih mirip kapal serdadu Amerika yang habis kena bom Jepang di perang Asia Pasifik daerah Pearl Harbor.
”Kau serius betah tinggal seperti ini?” Dheny menyingkirkan beberapa bungkus cheetos dari sofa.
”Mmm,..aku kan sibuk. Mana ada waktu untuk membersihkannya? Lagipula sudah ada housemaid yang merapikan” bela Jonghyun,
”Jonghyun kau tidak bisa hanya mengandalkan housemaid, mereka kan tidak hanya membersihkan apartement-mu saja, pokoknya hari ini kau harus membersihkan apartement-mu,” perintah Dheny. Ia hendak mengambil air putih, ketika Jonghyun menghentikan langkahnya dengan melingkarkan tangan di pinggangnya. Jonghyun menopang kepalanya di pundak Dheny.
”Tapi kau akan membantuku kan Jagi*,” ucap Jonghyun lembut membuat jantung Dheny berdesir. (Jagi : panggilan sayang – bhs Korea)
Alhasil mereka berdua membersihkan apartement bersama-sama, yang membuat agenda bersih-bersih istimewa adalah karena baik Dheny dan Jonghyun membersihkannya dengan cinta. (readers : salah yang bener dengan sapu, kemoceng, lap pel dll. Author : protes melulu sih, dasar readers kurang kerjaan)
2nd Couple : MD (Midha-Dongho)
”Sebenarnya, kita mau kemana sih?” tanya Midha setelah ia dan Dongho selesai berbelanja di salah satu mall terbesar di kota tersebut.
”Udah deh ikut aja,” jawab Dongho sembari memasukkan belanjaan ke bagasi mobil Pajero hitam miliknya.
”Ya tapi kemana?” Midha masih ngotot dengan pertanyaannya.
”R-A-H-A-S-I-A,” ucap Dongho misterius.
Midha masih ingin bertanya, tapi Dongho langsung membuka pintu mobil dan mendudukkannya di jok.
Dongho memasang save belt-nya. Midha terus memandangnya.
”Masih penasaran, kita mau kemana?” tanya Dongho menghadap ke Midha.
Midha mengangguk-angguk pelan.
Dongho tersenyum,”Sebentar lagi kau akan tahu,” ia mengacak pelan rambut Midha.
Midha terus mencari kemungkinan tempat yang akan dituju Dongho. Beberapa hipotesis ia ambil, namun tidak dapat menarik kesimpulan. Midha menyerah, ia jadi pusing sendiri. (sukurin loe Dha, mang enak?)
”Sudah sampai,” seru Dongho.
Midha memandang gedung putih dengan aksen semi modern tersebut. Ia menoleh ke arah Dongho,”Gedung Teater Musikal?”
”Tak usah banyak tanya ayo masuk,” Dongho menggandeng tangan Midha.
Sesampainya di dalam, sepi, tak ada pertunjukan, hanya ada mereka berdua.
”Kita mau ngapain sih? Ga ada orang?”
Dongho tidak menjawab, ia menggandeng Midha ke panggung. Langkahnya terhenti di depan sebuah grand piano berwarna putih, kemudian ia duduk disusul dengan Midha disampingnya. Dongho menarik nafas panjang, ia sudah latihan berkali-kali di rumah untuk menujukkan kemampuan bermain pianonya pada Midha. Tapi kenapa ia bisa gugup? Apa karena Midha terus memperhatikannya? Huuffftt, ia menarik nafas panjang menghirup oksigen semaksimal mungkin. Ya, aku pasti bisa, ucap Dongho dalam hati. Ia mulai memainkan sebuah lagu klasik. (lihat video U Kiss 0330)
Midha mendengarkan permainan Dongho dengan takjub, ia tak menyangka jika kekasihnya itu bisa bermain piano sebagus itu. Bruno Mars saja kalah. Ragu-ragu Midha mencoba menekan tuts piano, Dongho sempat menoleh ke arahnya. Midha mengira Dongho akan memarahinya karena mengganggu permainannya. Tapi ia salah, Dongho malah membimbingnya bermain, sehingga terjadi harmonisasi musik klasik yang menggema seantero gedung. Cinta diantara dua hati terbang lembut bagaikan musik yang tercipta dari dasar hati.
3rd Couple : XP (Xander-Prames)
Prames menekuk wajahnya sepanjang perjalanan, ia sebal bisa dibilang amat sangat sebal dengan Xander saat ini. Bukan karena penampilan Xander, ia , teman-teman bahkan seluruh penghuni sekolah tahu betul apapun yang Xander kenakan akan selalu terlihat menarik. Ia memandang Xander cukup lama, ughh Prames menggeram pelan. Dasar MR. Cuek sampe kapan kau seperti ini? Prames memegangi kepalanya. Ya, ia memang tak habis pikir bagaimana bisa jatuh hati pada lelaki yang-sangat-amat-tidak-perhatian sepertinya.
”He,..ini bukan arah ke rumahku, mau kemana sih” ucap Prames setelah menyadari Xander mengemudi berlawanan arah dengan tempat tinggalnya.
Xander diam saja, masih asik mengemudi.
”Kyaaa,..Alexander Lee Eusobio aku bertanya padamu tau!” teriak Prames.
”Kau ini cerewet sekali, diam dan jangan bertanya apapun!” teriak Xander tidak kalah garang.
”Kau mau menculikku ya?” tanya Prames memastikan. Sebenarnya itu lebih mirip pertanyaan yang konyol.
Xander tersenyum sinis,”Mana ada orang yang mau menculik gadis cerewet sepertimu.”
”Kau..!” Prames memalingkan wajah, selalu saja kalah berdebat dengan laki-laki ini.
Xander mengemudi ke arah pinggiran kota, Prames malas menebak tempat yang akan mereka tuju, ia masih kesal dengan Xander. Xander membelokkan kemudi ke arah kanan samar-samar Prames melihat sebuah rumah tingkat 2 bercat biru permen dengan suasana asri disekellingnya. Xander menghentikan mobilnya di depan pekarangan rumah tersebut. Prames keluar dari mobil, di depan rumah itu terdapat plang dengan tulisan “Panti Asuhan Menuai Harapan”
”Itu Kak Xander,” teriak belasan anak yang sedang bermain di halaman. Mereka langsung berlari dan mengerubuti Xander. Prames melihat Xander membagikan tas kecil pada mereka. Anak-anak itu tak ada hentinya berterima kasih pada Xander.
”Kak Xander itu siapa?” tanya gadis kecil dengan gigi kelinci menunjuk ke arah Prames.
Xander tidak menjawab, hanya memandang Prames dengan tatapan misterius.
”Aaahh,..jangan-jangan pacar Kak Xander ya? Ayo serbu!” komando gadis itu pada teman yang lain dan segera mengerubungi Prames.
”Nama Kakak siapa?”
”Kakak ini pacarnya Kak Xander ya?”
”Kakak cantik sekali!”
Anak-anak itu tiada henti memberondong Prames dengan jutaan pertanyaan. Mereka mengingatkan Prames akan Tria, gadis itu sudah seperti wartawan profesional. Jika ia masih anak-anak mungkin tingkahnya tak jauh beda dari belasan anak kecil yang mengerubunginya itu.
Prames terkesiap saat Xander menggandeng tangannya keluar dari gumulan anak-anak kecil tersebut.
”Tutup matamu!” perintah Xander.
Prames memandang Xander heran. Tapi melihat wajah Xander yang manis dan kekanakan membuat Prames seperti terhipnotis. Ia mengikuti setiap intruksi Xander.
”Sudah sampai, sekarang buka matamu pelan-pelan,” ucap Xander.
”Whoa,” Prames ternganga melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya. Langit jingga kemuning mengantarkan matahari beristirahat di balik sang mega, menggantung di atas kota, perlahan tapi pasti matahari menutup mata dengan indah bersalaman dengan bulan yang akan menerangi malam. Satu persatu lampu rumah menyala, jika dilihat dari atas seperti percikan kembang api yang meletup.
”Kau suka?”
”Itu pemandangan terindah yang pernah kulihat,” Prames menatap Xander tak percaya, ia mencium pipi Xander lembut.
Tanpa mereka duga, sedari tadi mereka diamati oleh anak-anak kecil dari balik semak-semak.
4th Couple : OK (Oyil-Kiseob)
”Ayo Kiseob, pukul! Iya, pukul terus, jangan sampe kalah! Awas belakang!,” Oyil teriak-teriak sambil sesekali gigit jari, khawatir jika Kiseob terluka. Hari ini merupakan pertandingan final memperebutkan gelar juara karate tunggal putra. Oyil tahu persis Kiseob berambisi penuh untuk memenangkan pertandingan ini.
”Awas,Kiseob!!!” Oyil histeris melihat tubuh pacarnya terpelanting.
Dukk! Pukulan lawan menghantam tepat di pelipis Kiseob, belum sempat ia meluncurkan perlawanan. Sang rival berhasil melempar tubuhnya.
Bukkk!!! Tubuh Kiseob sempurna menghantam lantai.
”Aghhh..!” Kiseob mengerang, darah segar mengalir dari keningnya. Di tribun depan ia dapat melihat Oyil berteriak histeris. Kiseob mencoba menggerakkan lengannya. Sakit, pertandingan hampir berakhir, satu pukulan lagi akan membuatnya menang mutlak. Sekali lagi ia mengarahkan pandangan ke arah tribun. Oyil menangis. Huh kau seharusnya tak boleh menangis Oyil lihat aku akan memenangkan pertandingan ini, batin Kiseob.
”Hiks..hiks..hiks..,” Oyil terisak. Ia tak pedulu beberapa masang mata melihat ke arahnya. Bodo amat, pacarnya lagi berjuang dan barusan terpelanting, keluar darahnya lagi, cewek mana coba yang ga’ khawatir.
”Hei dia bangun!” seru orang yang berada di samping Oyil.
Oyil berhenti menangis, ia terkejut melihat Kiseob bangkit.
”Ayo kau pasti bisa, Kiseob!” kata Oyil kembali bersemangat.
Kiseob mempersiapkan kuda-kudanya. Kali ini ia harus menghabisi musuh tengik di depannya. Sang rival tersenyum sinis. Detik-detik kemudian merupakan pertarungan sengit antara Kiseob dan rivalnya. Keduanya sama-sama memiliki kelincahan yang imbang. Sang rival melancarkan tinjunya, namun dapat ditepis oleh Kiseob. Dia kemudian membanting tubuh sang rival dengan tenaga maksimal.
Tiit! Peluit selesai pertandingan dibunyikan.
”Yes, Kiseob menang, pacarku menang!” Oyil teriak kegirangan, ia mulai menggerakkan kedua jempol jarinya.
Kiseob naik ke podium juara. Gubernur setempat mengalungkan medali emas dengan bangga di leher Kiseob.
”Tingkatkan Nak,” ucapnya menepuk pelan bahu Kiseob.
”Baiklah, hadirin sekalian tepuk tangan untuk Sang Juara!” komando pembawa acara.
”Mungkin ada satu dua buah kata yang ingin disampaikan,” pembawa acara memberikan mic pada Kiseob.
”Sebelumnya saya tidak akan berbicara panjang lebar, pertama bersyukur kepada Tuhan YME, kedua terima kasih untuk pelatih dan seluruh rekan-rekan sekalian. Kita sudah bekerja keras selama berbulan-bulan untuk ini. Dan yang terakhir,” Kiseob menarik nafas panjang,”terima kasih untuk pacar saya karena sudah rela menghabiskan banyak waktunya menunggu saya latihan, tak henti mendukung dan mengkhawatirkan saya. Lihatlah medali ini simbol bahwa kamulah satu-satunya yang ada di hati saya,” Kiseob menyudahi pidatonya.
Oyil ternganga tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
”Ayo pergi,” ajak Kiseob setelah turun dari podium. ”Jadi beli baju kan?”
Oyil menggeleng,”Kamu pasti capek, lagipula kamu harus istirahat. Kepalamu diperban lagi,’
”Astaga, gini doang besok juga sembuh.”
”Tapi,..”
”Aku sayang kamu, dan aku janji gak akan ngecewain kamu. Ok? Ayo pergi,” Kiseob menggandeng tangan Oyil.
Cinta memang bisa mengalahkan segala rasa sakit. (readers: klo lo sakit gigi trus da yang bilang cinta langsung sembuh gitu?; author: aisshh cerewet lu pada!)
5th Couple TN (NuRil-Taemin)
”Habis ini mau kemana?” tanya NuRil setelah selesai membeli pakaian.
”Ah ya, aku ada latihan dance hari ini. Kamu ikut ya?” ajak Taemin.
NuRil mengais kaki di lantai (emang ayam), bimbang dengan ajakan Taemin. Ia kan tidak bisa nge-dance.
”Taem, kau kan tahu aku ya tidak bisa menari.”
”Hahaha, itu masalahnya? Ayo! Aku bisa mengajarimu,” Temin langsung menggandeng tangan NuRil.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di sanggar tari Taemin. Sanggar tari ini membuka dua kelas, kelas tari tradisional dan modern. Bisa menebak Taemin masuk yang mana? Yup benar, ia masuk di kelas tari modern bahkan tahun ini ia memenangkan ajang modern dancer terbaik. (ya,ya,ya tepuk tangannya readers)
NuRil selalu takjub jika mengunjungi tempat ini. Ia senang melihat orang menari, menurutnya mereka dapat mengeluarkan seluruh isi hati dengan gerakan. Hanya dengan gerakan dan mereka bisa membuat banyak orang takjub. Lihat saja, Michael Jackson, semua orang tahu gaya moonwalk-nya. Madona, ia mampu menaklukkan dunia juga dengan dance.
”Ayo masuk!”ajak Taemin.
Mereka sampai di Boombox Room, ruang latihan khusus untuk anak-anak yang mengambilkelas modern dance. Tidak banyak orang yang latihan hari ini, sekitar belasan. NuRil melihat dari ujung ruangan. Sementara Taemin mulai melakukan pemanasan dengan murid-murid yang lain. Satu lal yang membuat NuRil jatuh cinta pada lelaki ini adalah dance. Ia suka sekali melihat Taemin menari, senang saat Taemin mampu menghibur banyak orang, bahagia ketika Taemin mendapat penghargaan atas bakat luar biasanya itu. Melihat Taemin menari sudah lebih dari cukup membuat suasana hatinya menyenangkan. Latihan berlangsung selama 2 jam, dan selama itu pula NuRil memfokuskan penglihatannya pada sosok Taemin.
”Tidak pulang?” tanya NuRil. Ruangan sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua.
Taemin menggeleng,”Kau?”
”Aku juga blom mau pulang,” NuRil duduk disamping Taemin.
Taemin mengajak NuRil berdiri. Ia menyalakan tape dan memutar lagu klasik Clair DeLune. Kemudian memandang NuRil penuh arti.
Taemin menghampirinya,”Girl, dance with me.”
”Hah, tapi, tapi aku kan..”
”Ayolah, aku selalu bisa memaksamu,” Taemin mengatur posisi.
”Kita akan dansa tiga langkah, mengerti?”
NuRil menggeleng. Temin tersenyum, ia melingkarkan tangannya di pinggang NuRil dan meletakkan tangan NuRil di bahunya.
”Menari bukanlah teori, dengarkan hatimu dan ia akan membimbingmu,” ujar Taemin lembut, membuat jantung NuRil berdetak lebih cepat dari biasanya.
”Aku menyukai, Taemin.”
”Aku juga, sangat menyukaimu.”
6th Couple RS (Rodhy-SooHyun)
Jepret!
Jepret!
Jepret!
”Heh, Rod udahan fotonya napa? Gigiku kering ni dari tadi senyum mulu,” protes SooHyun.
”Iya, dikit lagi baru 147 kurang 3 lagi biar genap 150 fotonya.” Ucap Rodhy. Ia kembali mengarahkan kameranya dan..
Jepret!
Jepret!
Jepret!
”Yee, dah pas 150!” teriak Rodhy girang.
”What! Jam setengah dua,” pekik Soohyun.
Rodhy menoleh,”Ada apa?”
”Aku ada perform jam 3, ayo ke mobil,” Soohyun berlari. Rodhy menyusul di belakang, jujur ia kesal. Selama mereka pacaran Soohyun selalu lupa menggandeng tangannya. Jika kencan ya hanya jalan, foto dan makan tanpa gandeng tangan. Ia sempat iri dengan pasangan teman-temannya, tapi sekarang ia tak mau memikirkannya.
Soohyun terus menambah laju kecepatan motor sport-nya. Sesekali menerobos lampu merah, hal ini sontak membuat Rodhy was-was. Pertama khawatir di kejar polisi dan kedua takut akan bergesekan (baca: tabrakan) dengan kendaraan lain.
Sesampainya di tempat, Soohyun segera pergi ke belakang panggung siap-siap untuk perform. Sebagai anak band, Soohyun selalu tampil profesional. Rodhy menuju bangku penonton. Suasana sudah ramai, ia melihat kumpulan gadis-gadis membawa banner (kain yang ditulisin) bertuliskan “Soohyun We Love You”. Rodhy sebal, baru saja ia ingin bilang jika Soohyun itu pacaranya. Namun kemudian ia mengurungkan niatnya, sudah menjadi resiko memadu kasih dengan idola. Harus siap menghadapi jika bukan diri kita saja yang menyukainya. Rodhy serasa bahwa dirinya tak jauh berbeda dengan Selena Gomes (ngimpi kali yee..) yang berpacaran dengan JB.
”Itu, Soohyun tampil,” jerit gadis-gadis.
Memang benar Soohyun bersama teman-teman band-nya menaiki panggung, sebagai frontman (vocalist) Soohyun mampu membawa suasana. Seluruh penonton mengikuti lagu demi lagu tanpa rusuh.
Sebelum acara selesai Soohyun mencurahkan isi hatinya pada penonton (ya iyalah, masa’ sama ayam?)
”Ok guys, aku ingin menyampaikan sesuatu,” Soohyun memulai pembicaraan, seluruh penonton seketika dism.
”Kalian pasti sudah tahu jika aku punya pacar, sebelumnya aku tak bermaksud untuk pamer hanya sekedar sharing tentang dirinya, dia satu-satunya gadis yang bisa memaksaku foto sampai 150 kali dia juga yang mampu membuatku mengantarnya belanja, menunggunya berjam-jam di salon tanpa merasa lelah dan menyesal, meskipun kadang dia menyebalkan tapi aku tak dapat menepis perasaan bahwa aku sangat menyukai dirinya,” Soohyun terdiam, penonton menunggu kelanjutannya.
”Aku tahu kau mendengarku dan aku yakin ini mungkin membuatku seperti orang bodoh, satu kalimat yang harus kau tahu. I love you,” ucap Soohyun, seluruh penonton bertepuk tangan mendengarnya.
”I love you too,” ucap Rodhy sembari tersenyum.
7th Couple : TK (Tria-Kevin)
Kevin memasukkan baju belanjaan dia dan Tria (ofcourse) ke bagasi mobil Ferrari Spider-nya (author: ni mobil keren banget lho, suer!; readers : keren jg lo kaga’ punya; authors : oh yo wez, ngajak ra rukun..tenan ogg) Tak lupa ia membukakan pintu dan mempersilahkan Tria untuk duduk.
”Kau mau pergi ke mana habis ini, Nyonya Kevin.”
Tria mengernyitkan dahi,”Heii! Kau mulai seperti teman-temanku, entahlah aku belum punya rencana.”
Kevin tampak berfikir,”Bagaimana klo makan es krim? Oh ya jika kita menikah nanti tentu saja secara formal dirimu akan dipanggil dengan sebutan Nyonya Kevin. Bukankah begitu?”
”Hah! Menikah?” Tria tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Kevin barusan, sebagai perempuan yang seharusnya berpikiran jauh lebih dewasa ia tidak pernah memikirkan hal itu.
Kevin tidak bingung, sepertinya tak ada yang lucu dari omongannya. Hei? Bukankah merencanakan pernikahan itu hal yang wajar? Tapi ia senang melihat dan mendengar Tria tertawa, suaranya khas dan satu lagi Tria selalu tertawa lepas tidak sok jaim. Itu salah satu hal yang ia suka dari gadis ini, menjadi apa adanya. Kevin mengemudi dengan kecepatan sedang, sering kali ia menoleh ke arah Tria yang asik dengan Nintendo DS-nya bermain game Winning Eleven (game sepakbola). Dari sepekan yang lalu Tria tak bisa lepas dari gadget itu, Kevin tak habis pikir.
”Sudah sampai.”
Tria membuka pintu. Ia melihat cafe dengan aksen Yunano Kuno di depannya. Serasa bermain di film Percy Jackson.
”U Kiss Ice Cream & Cafe, tempat yang bagus,” pujinya setelah masuk ke dalam.
”Mau pesan apa?” tanya Kevin, tangannya membolak-balik lembar buku menu.
”Mm, aku mau Wafel Chocolate Topping Chrispy,” jawab Tria antusias.
”Baik, Wafel Chocolate Topping Chrispy dan pai blueberry dua,” pesan Kevin pada waiters.
Tria mengamati suasana sekitar, ia baru tahu ada cafe dengan konsep seperti ini. Menurut Tria cafe tersebut menyenangkan, dapat didatangi oleh kalangan segala usia dengan pernak-pernik khas Yunani yang menghiasi tiap inchi dindingnya. Tria juga menyukai penampilan musik yang dihadirkan di cafe tersebut.
”Ini Tuan pesanannya,” ucap waiters tangannya terampil menurunkan piring saji berisi pesanan di atas meja.
”Ayo makan,” ucap Tria girang.
Kevin hanya tersenyum melihat tingkah pacarnya tersebut. Tanpa Tria sadari Kevin terus memperhatikannya. Yah, secuek apapun seseorang lambat-laun juga sadar jika sedang diperhatikan.
”Apa? Ada yang aneh,” ucap Tria di tengah asik makan ice ceam.
Kevin terkesiap, sisa ice cream belepotan di bibir Tria. Kevin baru sadar ada orang belepotan ice cream bisa semanis itu. Ia segera mengambil tisu dan menyeka ice cream yang ada di bibir gadisnya itu.
”Aissh, kau ini. Aku bukan anak kecil tau?” Tria menghindar namun sentuhan lembut Kevin membuatnya terdiam.
”Aku tak mau pacarku seperti anak kecil yang belepotan belum bisa makan sendiri.”
Tria mengerucutkan bibir. Kevin hanya tertawa.
”Aku cinta kamu,” ucap Kevin pelan.
”Ya, ya kau bilang itu setiap hari,” balas Tria acuh.
Kevin tersenyum,”Aku mau ke toilet dulu.”
Tria kembali meneruskan aktifitasnya makan ice cream dan pai blueberry. Tak lama setelah itu, ia mendengar seseorang berbicara di depan, suara itu sangat familiar. Tria menoleh dan tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
”Kevin!”
”Ok ladies and gentleman, aku tak bermaksud menghilangkan nafsu makan kalian. Aku hanya mencoba untuk menghibur anda sekalian daan mencurahkan isi hatiku pada gadis diseberang sana,” Kevin menunjuk ke arah Tria.
Tria hanya tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
”Ia adalah gadis yang yang membuatku jatuh cinta, ini mungkin terdengar gombal tapi aku sangat mencintainya dan aku tahu ia juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja aku belum tahu caranya mencintaiku,” Kevin menyudahi ucapannya. Ia menjentikkan jari, musik mengalun lembut.
”Special song for you my girl,” Kevin mulai bernyanyi.
Isn’t she lovely
Isn’t she wonderfull
Isn’t she precious
Less than one minute old
I never thought through love we’d be
Making one as lovely as she
But isn’t she lovely made from love
(Isn’t She Lovely-by : Stevie Wonder)
Tria tersenyum tak percaya. Kevin menghampiri dan menggenggam tangannya.
”I love you so much,” ucap Kevin dengan mengarahkan pandangan penuh arti pada Tria.
”I love you too, more than so much,” balas Tria.
Terdengar suara tepuk tangan dari seluruh pengunjung cafe. Keduanya hanya tersenyum.
8th Couple : GR (Gochan-Ratih)
”Kamera, Rolling, Action!” teriak sutradara lantang.
Gochan berlari sekuat tenaga, 20 meter, 10 meter, 5 meter, dan yak Gochan berhasil melewati pintu gerbang sekolah tepat sebelum bel masuk berbunyi.
”Cut!, baik semuanya syuting selesai. Good job Gochan,” ucapnya sebelum meninggalkan tempat syuting.
Ratih menunggu di luar area syuting, meskipun dia notabene pacar Gochan tapi yang namanya syuting harus profesional, orang yang tidak masuk dalam sataf dilarang memasuki area syuting. Saat sedang asik bengong, tiba-tiba seseorang menutup kedua matanya dari belakang.
”Gochan!” pekik Ratih, ia hafal tekstur tangan pacarnya itu.
”Hehe, dah lama ya nunggunya,” Gochan nyengir lebar.
Ratih mendongak ke arah Gochan dengan pandangan seperti ‘Dah tahu nanya’. (maklum Gochan tingginya 188 cm, tu manusia pa tiang listrik)
Gochan menggoncang tubuh Ratih pelan, “Iya sorry, tahu kan jadwal syuting padat. Ayo pergi.”
Keduanya menuju ke tempat parkir, hari ini Gochan mengendarai motorsport Honda seri CBR berwarna hitam. Sudah lama Gochan mengincar motor seri tersebut, namun baru kesampaian beli bulan lalu dengan uang tabungannya. Ia tidak begitu suka hanya nyadong pada orangtua, profesinya sebagai aktor memberinya kuota menabung berlebih.
Kebetulan Ratih dan Gochan memiliki selera fashion yang sama, lucu dan menarik. Mereka mencoba pakaian dari satu toko ke toko yang lain. Bukan karena apa-apa, hanya saja iseng mengerjai si pramuniaga (dasar lu). Ratih menikmati setiap detik bersama Gochan. Semakin hari waktu yang bisa mereka luangkan untuk ng-date semakin seikit. Ratih sibuk dengan proyek karya tulisnya, sedangkan Gochan apalagi kalau bukan sibuk syuting. Ya setidaknya multiple date memberi alasan pada mereka untuk meluangkan sedikit waktu bersama.
Ponsel Gochan berdering, ia segera mengangkat teleponnya.
”Halo, Gochan kita ada syuting mendadak. Barusan sponsor memajukan deadline,” ujar suara di seberang sana.
”Tapi,..”
”Tak ada tapi Gochan, itu sponsor terbesar untuk film kita. Jika ia menarik partisipasinya, kita bisa bangkrut,” ucap suara di seberang telepon.
”Baik, aku segera ke sana,” Gochan mematikan ponselnya. Ia menoleh ke arah Ratih ragu.
”Bukankah kau harus pergi?” kata Ratih. Meskipun tak mendengar langsung, ia dapat membaca dengan baik raut wajah Gochan.
”Maaf,” hanya itu yang mampu Gochan ucapkan.
Ratih tertawa,”Hei, tak masalah. Toh kita sudah selesai belanja, lagipula aku bisa pulang sendiri ogg.”
”Bukan karena itu, mungkin aku aktor yang baik tapi aku bukan pacar yang baik. Lihat saja, aku nyaris tak punya banyak waktu untukmu,” ucap Gochan sambil menunduk.
Ratih memandang Gochan simpati,”Aku suka kamu, apapun yang terjadi aku akan selalu mendukungmu.”
”Kau tahu sebenarnya aku ingin memberikan ini untukmu,” Gochan merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah gelang dari emas putih dengan motif kota-kotak, ia memakaikan gelang itu di tangan kanan Ratih.
”Aku berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberikan ini, tapi spertinya tak ada, daripada terus menundanya aku berikan saat ini saja,” kata Gochan riang.
”GR?” ucap Ratih ketika melihat tulisan tersebut di gelang yang diberikan Gochan.
”Oh itu singkatan dari Gochan-Ratih, tu juga bermakna GR (Gede Rasa), kamu harus GR sebagai pacarku, bukan karena aku seorang aktor, bukan pula karena aku populer tapi karena kamu satu-satunya gadis yang bisa menaklukkan hatiku,” Gochan menaruh tangan Ratih tepat di dadadnya. Ia juga sempat tak percaya bisa bicara sepuitis itu.
”Aku tahu kok, sudah cepat pergi jangan sampai mereka menunggumu.”
Gochan berlari meninggalkan Ratih, ia menyempatkan diri berbalik dan memberi kiss bye pada gadisnya itu.
9th Couple : NK (NurAz-Karam)
NurAz mondar-mandir di dalam kamarnya. Berkali-kali ia melihat arlojinya dan melongokkan kepala ke jendela, berharap menemukan sosok itu. Lagi-lagi nihil, jalanan tampak sepi rerumputan bergoyang dengan leluasa seakan menertawakan dirinya.
”Mana sih tu makhluk,” NurAz geram, ia membanting tas Sophie Martin yang belum lama ia beli.
Menit demi menit yang berlalu adalah momen menunggu yang paling menyebalkan bagi NurAz, rasanya sudah belasan kali ia mencoba menelpon, tahu bagaimana hasilnya? (readers : ya gatau lah, emang Ki Joko Bodo) selalu mailbox dan jaringan sibuk.
Karam mengemudikan mobilnya dengan kecapatan minimal 125 km/jam bahkan ia berani menambahkan tenaga sampai ke angka 200 lebih. Ia harus cepat, kembali Karam menoleh ke arlojinya. Sial, hampir 1 jam aku telat umpatnya dalam hati.
Tin! Tin! Tin!
Karam membanting stir ke arah kiri, menghindari gesekan dengan truk pengangkut barang curah. Untungnya si sopir truk cekatan, ia mampu menjaga keseimbangan truk-nya.
”Hei anak muda, perhatikan jalanmu!,” umpatnya pada Karam.
Karam tak peduli, yang ada di otaknya sekarang adalah harus sampai ke rumah NurAz secepat mungkin.
Ting Tong!
NurAz dengan malas-malasan membuka pintu, ia sudah tahu siapa yang datang.
”Hai!” Karam memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi. NurAz memandangnya tanpa ekspresi.
”Eee..oke aku minta maaf, tadi aku ketiduran,” Karam berkata jujur.
”Hah? Ketiduran? Kau tahu aku sudah menunggumu lebih dari 1 jam!”
Karam memegang telinganya. Teriakan NurAz kencang juga.
”Ayolah, aku kan sudah minta maaf. Mari kita pergi,” Karam menggandeng tangan NurAz tapi ia tak bergeming. Karam menoleh,”Kenapa lagi sih?”
”Aku tak mau pergi,” NurAz melepaskan pegangan Karam.
”Ayolah,” Karam memohon. Ia menampakkan mimik orang paling melas sedunia.
”Aku..,”
”Itu aku anggap jawaban iya,” Karam menarik NurAz membawanya ke dalam mobil Mercedes Benz-nya. NurAz tidak membuka mulut sepanjang perjalanan. Karam menebak jika gadis itu masih marah padanya. Ya ampun cuman telat 1 jam saja repot, batinnya kesal. (readers : ya iyalah 1 jam tu lama, dasar Karam bego; author: eh lu siap2 aja disate ma Karam). Saat belanja baju pun NurAz tak mengajaknya bicara sama sekali. Tiap Karam berkomentar, NurAz seolah-olah tak mendengarnya. Hal ini benar-benar membuat Karam frustasi.
”Sebegitu marahkah kau padaku?” Karam sekali lagi membuka percakapan. Kini ia dan NurAz berada di lapangan baseball. Karam memainkan bola baseball di tangan kirinya. Satu menit, dua menit NurAz hanya diam. Karam mendesah,”Baiklah, aku mengaku salah. Aku akan lakukan apa saja.”
”Entahlah,” NurAz memandang Karang, “Aku ingin marah padamu, tapi aku tak bisa. Berpacaran denganmu membuatku tak bisa berpikiran jernih.”
”Kenapa?”
”Walaupun kau sering terlambat, perasaanmu yagn tidak peka, tingkahmu yang menyebalkan. Aku tak bisa marah padama, kau menyebalkan,” NurAz memukul-mukul pelan bahu Karam.
”Itu karena kau menyukaiku,” ucap Karam. Ia memiringkan wajahnya mulai mendekatkan wajahnya pada gadisnya itu, jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa centi dan...
”Kakak..kakak, bisa minta tolong layang-layangku nyangkut!” seorang anak laki-laki berteriak memanggil mereka.
”Dasar bocah, mengganggu saja,” Karam menggembungkan pipinya. (hihihi, maaf ya masih di bawah umur /PLAKK/)
NurAz berdiri dan menarik tangan Karam,”Ayo kita bantu kasihan.”
10th Couple : KA (Key-Astrie)
”Key, ngapain sih beli baju di sini?” Astrie narik-narik baju Key. Mereka sedang ada di Street Style, tempat belanja baggi remaja stylish. Karena Astrie tidak merasa menjadi remaja stylish, so ia tidak homy berada di situ.
”Kau diam saja, aku yang akan memilihkan baju. Kau kan tak tahu fashion,” kata Key mengejek.
Aastrie melotot, ia mengarahkan jurus karatenya ke leher Key (maklum author g’ tahu tu jurus karate apa ja, pokokmen ngono)
”Aghh,..sakit, ga’ usah bawa-bawa jurus Karate napa,” ucap Key sambil mengusap lehernya yang sakit.
Astrie tidak peduli, ia kesal. Kemudian meninggalkan Key yang masih sibuk mengurut lehernya. Agenda belanja baju berlangsung dengan cepat. Sebenarnya Astrie tak meragukan pengetahuan Key tentang fashion. Ia suka dengan semua pakaian yang Key pilihkan, tapi ia sungkan untuk bicara seperti itu. Setelah berbelanja, keduanya hendak pulang. Namun Key mengajaknya jalan-jalan ke Menara Namsan.
Astrie selalu suka datang ke tempat ini. Bukan hanya karena lokasinya yang jauh dari keramaian dan tempatnya yang bersih melainkan tempat ini mengandung banyak sejarah dalam hidupnya. Kurang lebih setahun lalu ia dan sahabat-sahabat gilanya (Sazou Girlz) berjanji bahwa mereka akan tetap bersahabat sampai kapanpun, meskipun nantinya mereka punya pacar, kuliah di tempat yang berbeda, bekerja, menikah, punya anak bahkan jadi nenek-nenek sekalipun mereka tetap bersahabat. Astrie tersenyum mengingat saat itu. Angin sore berhembus kencang, dingin. Astrie menggosok-gosokkan tangannya, ia memarahi dirinya sendiri karena lupa membawa jaket.
Key memberikan jaketnya pada Astrie,”Pakailah.”
”Ah tidak, bukannya kau Cuma bawa 1?”
”Kau lebih membutuhkannya, jangan sok kuat. Kau terlihat aneh jika seperti itu,” ucap Key terang-terangan. Astrie memakai jaket yang diberikan Key, walau agak kebesaran tapi Astrie suka. Hangat dan ia bisa mencium parfum Key yang menyeruak dari pori-pori jaket miliknya.
Mereka berdiri bersisian, sekelompok burung camar terbang pulang ke sarang. Matahari nyaris tertidur.
”Aku cinta kamu,” ucap Key seiring tenggelamnya sang surya.
”Aku juga,” balas Astrie sembari menggenggam tangan Key erat.
MULTIPLE DATE : THE BEST DAY EVER
Sazou girlz sedang sibuk packing barang masing-masing, Sazou boyz (opo sih, buang kali, week :p, sori author gi gak akur) ga’ ikut jadi mereka ga’ kemana-mana.
Di tempat lain boyfriend mereka juga sibuk menyiapkan barang-barang, sebelumnya mereka sempat berembug soal transportasi mereka untuk ng’date nanti, ada yang mau pakai mobil dan motor. Karena jumlah suara imbang, akhirnya Soohyun pahlawan tanpa tanda pangkat punya ide akan meminjam bus tour band-nya (kan da 10 couple, berarti da 20 orang, klo naek angkot kan ga’ cukup) semua ngangguk sepitu.
”Mereka kok belum datang ya,” NurAz melirik arlojinya.
Astrie terkekeh,”Maklum biasanya mereka ngebut pake mobil ato motor, klo sekarang kan naik bus.”
”Tu mereka,” Midha menunjuk tangannya ke arah sebuah tour bus.
Tour Bus berwarna biru putih metalik tersebut berhenti dan turunlah 10 pangeran dari khayangan (readers : bukan.x bidadari; author : husst diemmm!)
”Hi girl,” sapa mereka (Soohyun, Kevin, Xander, Dongho, Gochan, Taemin, Karam, Kiseob, Jonghyun dan Key) bebarengan.
Sazou Girlz (Rodhy, Tria, Prames, Midha, Ratih, NuRil, NurAz, Oyil, Dheny dan Astrie) cuman bisa ternganga (untung ga’ pada ngiler /PLAKK/ digebukin Sazou girls rame-rame).
Oke sudah pada tahu mereka mau ng’date dimana? Nehi, nehi salah! Yang benar mereka bakal pergi ke Caribbean Bay = Teluk Karibia, teluk terindah di daerah tersebut. (lihat video DBSK-SNSD Caribbean Bay) Tawa, canda dan kegokilan mewarnai perjalanan mereka. Asal tahu saja ternyata ke-20 remaja tersebut kompak memakai pakaian colorful yang ceria dengan berbagai model (lihat video DNA : Love Bingo)
Sesampainya di tempat tujuan, aroma air laut langsung tercium. Tria dan Kevin cs (xixixi,..) langsung menjejalkan kaki di hamparan pasir putih nan lembut. Talk lupa foto-foto dumz. Baik Sazou girlz maupun Boyfriend-nya sudah tak ada jaimjaim-an. Mereka berfoto ria dan tertawa lepas. Mereka menghabiskan waktu dengan mencoba paralayang dan surfing.
Dongho juga sudah memesan 3 banana boat (1 banana boat max 6-8 orang). Dengan pelampung mereka diombang-ambingkan di laut lepas selama 20 menit. Selain itu adu kecepatan dengan menaiki jetski.
Lelah bermain air, 20 remaja tanggung itu duduk di bawah pohon ditemani manisan dan es kelapa muda. Ombak sedang ngantar para surfer kembali ke bibir pantai, anak-anak kecil membangun istana pantai. Tria tak bisa berhenti tertawa melihat anak-anak yang gagal mendirikan istana pasir.
Tria menyandarkan kepalanya di bahu Kevin, Midha menggenggam tangan Dongho, Soohyun dan Rodhy masih asik narsis foto-foto, Key dan Astrie mengumpulkan kerang-kerang kecil, Gochan dan Ratih asik ngobrol, NuRil dan Taemin membuat orang-orangan dari lidi-lidi, Oyil dan Kiseob melakukan aksi duet maut (nyanyi maksudnya), NurAz dan Karam seru menilai permainan surfing, Xander dan Prames membentuk gundukan pasir dan Dheny mendengarkan Jonghyun bercerita.
Tak lama kemudian mereka mulai bernyanyi acapella dengan kompak.
Saying I Love You, Is Not The Words
I Want To Hear From You, It's Not That I Want You
Not To Say, But If You Only Knew
How Easy, It Would Be To
Show Me How You Feel, More Than Words
Is All You Have To Do, To Make It Real
Then You Wouldn't, Have To Say
That You Love Me, Cos I'd Already Know
What Would You Do, If My Heart Was Torn In Two
More Than Words To Show You Feel, That Your Love For Me Is Real
What Would You Say, If I Took Those Words Away
Then You Couldn't Make Things New, Just By Saying I Love You
It S More Than Words, It S More Than What You Say
It S The Things You Do, It S More Than Words
It S More Than What You Say
It S The Things You Do, Now That I've Tried To
Talk To You, And Make You Understand
All You Have To Do, Is Close Your Eyes
And Just Reach Out Your Hands
And Touch Me, Hold Me Close
Don't Ever Let Me Go, More Than Words
Is All I Ever, Needed You To Show
Then You Wouldn't Have To Say, That You Love Me
Cos I'd Already Know
(THE END)